RSS

Teman di Persimpangan Pencarian

Terhenyak sesaat dari lamunan yang entah sejak kapan kumulai. Sedetik sebelumnya, pikiranku asyik berputar-putar ke sana ke mari. Mencari setiap sudut dan rongga yang bisa dimasuki. Ah, sedetik kemudian aku lupa, semua yang sedari tadi mengganggu pikiranku hilang seketika. Dering dari Smartphoneku yang berbunyi tanpa diminta itu membuyarkan semuanya. Segera setelahnya mukaku menjadi pucat pasi dan hatiku menjadi tak karuan.

Pesan yang baru saja masuk ke smartphoneku bukan pesan biasa. Pesan amarah, tanda puncak dari suatu pergumulan yang lama terpendam. Lama ku terdiam membaca pesan penuh rasa sakit itu. Bukan tidak jantan, mencurahkan semua melalui pesan elektronik tapi aku tau ia terlalu sakit hati untuk langsung mengatakannya. Makian mungkin akan terlontar melalui kata yang terucap namun tulisan akan mampu memilahnya.

Aku menarik nafas panjang. Kemudian kembali menarik nafas. Baru kali ini, ia semarah ini padaku dan aku sedang sangat lelah. Aku tak ingin menanggapi dengan kelelahan ini. Kupejamkan mata sejenak.

Ucap Bibir

Aku menggigit bibirku, terdiam sejenak..
Kemudian kembali menggigit bibirku..

Ku tatapi laporan di depanku..
Harap cemas melihat setiap angka yang ada di dalamnya..

Menarik nafas panjang dan menghela nafas..
Sudah menjadi kebiasaanku
Kebiasaan buruk memang, tapi.......
Ah, tapi...... Itu membuatku lebih tenang

Aku mulai membuka mulut berusaha bicara
Sedetik berlalu, kukatupkan kembali
Rasanya tak sanggup berkata-kata

Tawa

           Kian tergelak,  tertawa terbahak - bahak hampir terjungkal ke belakang dari tempat duduknya. Aku hanya bisa ikut tertawa memandangi wajahnya yang tertawa bahagia tanpa beban.  Betapa aku menyayanginya. 

      Aku takkan punya kekuatan dan semangat tanpa melihat senyumnya, tawanya, wajahnya yang penuh cahaya kebahagian. Tak jarang aku menangis dan segera berhenti ketika mendengar Kian tertawa. Suara tawanya membawa damai di hatiku.  Betapa aku mencintainya.  Malaikatku.  Sumber kebahagiaanku.


*************

Tak Lagi Sanggup by Charles

It Is You (New Version) by D Mechanic Featuring Louis

A Beautiful Day by D Mechanic Featuring Louis

Chapter 1: Seribu Satu Tanya, Satu Jawaban

Krycilla berjalan dengan teruburu-buru sambil melihat jam tangannya. Sesekali ia berlari kecil untuk mempercepat langkahnya.Wajahnya dipenuhi dengan penyesalan yang bercampur dengan rasa cemas.

Ugh, ini gawat, gumamnya dalam hati. Ia baru menuruni tangga halte bus Transjakarta dan memasuki sebuah gedung perkantoran. Sambil berjalan, Cilla, begitu orang-orang memanggil namanya, mulai mencoba mengingat apa yang ia lakukan semalam sehingga ia bisa terlambat. Dia tidur jam 11 malam, termasuk cepat untuk pola tidur orang Jakarta, pikirnya. Satu hal yang harus ia akui adalah tidurnya memang tidak nyenyak. Selalu tidak nyenyak atau tepatnya tidak pernah nyenyak. Inilah yang membuatku terlambat, gerutu Cilla. 

Setiap pagi, energinya harus terkuras dengan perlawanan kecil dari tubuhnya yang enggan bangun dan beranjak dari tempat tidur. Seandainya ia boleh memilih untuk tetap berbaring di tempat tidur pasti dia akan sangat bahagia.

Cilla kini segera menaiki lift yang baru saja terbuka. Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam tanpa mengundang perhatian sekelilingnya. Tetap tidak membuatnya lega memang, tapi setidaknya membantu mengurangi ketegangan. Dengan berat hati, ia melangkahkan kakinya keluar dari lift.