RSS
Showing posts with label Stories. Show all posts
Showing posts with label Stories. Show all posts

Waktu

Senja itu indah. Mentari memancarkan cahaya kemerahan selagi menuju peraduan, menghiasi langit dan awan yang kala itu mulai muram.

Aku termenung menikmati detik demi detik waktu melaju, menikmati semilir angin nan hangat sore itu.

Di sela waktu, imajinasi ini terbang tinggi melintasi dunia tanpa batas. Di jalannya waktu, hati ini terjerat dalam tanya dan jawab. Di persimpangan waktu, setiap upaya dan hasrat melebur menjadi satu. Dalam untaian waktu, masa yang belum terungkap akan tercipta dari yang rasa dan kenangan di saat lampau.

Dentang waktu kini membuatku tersadar dari lamunanku.. Sedari tadi, aku tidak terusik hingga akhirnya waktu berbisik agar aku kembali berjalan. Namun kini, waktu tak lagi berjalan. Aku tertinggal oleh larinya. Kini ia berteriak agar aku mengejarnya.

Dalam setiap putarannya, ia semakin jauh melangkah, konstan dan teratur, meninggalkan setiap orang yang tak mampu mengikutinya. Ia tidak berhenti, maka aku tak akan mampu berharap untuk menyusulnya ketika tertinggal jauh. Ia juga tidak akan pernah kembali, maka aku tak akan mampu mengharapnya menengok aku yang tergopoh-gopoh berusaha menggapainya.

Seakan baru saja mentari menyapaku undur diri, kini waktu telah mengubahnya muncul dalam balutan cahaya yang terang benderang. Lalu dimanakah aku? Apakah aku tetap terpaku di tempat yang sama dan imaji yang sama?

Teman di Persimpangan Pencarian

Terhenyak sesaat dari lamunan yang entah sejak kapan kumulai. Sedetik sebelumnya, pikiranku asyik berputar-putar ke sana ke mari. Mencari setiap sudut dan rongga yang bisa dimasuki. Ah, sedetik kemudian aku lupa, semua yang sedari tadi mengganggu pikiranku hilang seketika. Dering dari Smartphoneku yang berbunyi tanpa diminta itu membuyarkan semuanya. Segera setelahnya mukaku menjadi pucat pasi dan hatiku menjadi tak karuan.

Pesan yang baru saja masuk ke smartphoneku bukan pesan biasa. Pesan amarah, tanda puncak dari suatu pergumulan yang lama terpendam. Lama ku terdiam membaca pesan penuh rasa sakit itu. Bukan tidak jantan, mencurahkan semua melalui pesan elektronik tapi aku tau ia terlalu sakit hati untuk langsung mengatakannya. Makian mungkin akan terlontar melalui kata yang terucap namun tulisan akan mampu memilahnya.

Aku menarik nafas panjang. Kemudian kembali menarik nafas. Baru kali ini, ia semarah ini padaku dan aku sedang sangat lelah. Aku tak ingin menanggapi dengan kelelahan ini. Kupejamkan mata sejenak.

Ucap Bibir

Aku menggigit bibirku, terdiam sejenak..
Kemudian kembali menggigit bibirku..

Ku tatapi laporan di depanku..
Harap cemas melihat setiap angka yang ada di dalamnya..

Menarik nafas panjang dan menghela nafas..
Sudah menjadi kebiasaanku
Kebiasaan buruk memang, tapi.......
Ah, tapi...... Itu membuatku lebih tenang

Aku mulai membuka mulut berusaha bicara
Sedetik berlalu, kukatupkan kembali
Rasanya tak sanggup berkata-kata

Tawa

           Kian tergelak,  tertawa terbahak - bahak hampir terjungkal ke belakang dari tempat duduknya. Aku hanya bisa ikut tertawa memandangi wajahnya yang tertawa bahagia tanpa beban.  Betapa aku menyayanginya. 

      Aku takkan punya kekuatan dan semangat tanpa melihat senyumnya, tawanya, wajahnya yang penuh cahaya kebahagian. Tak jarang aku menangis dan segera berhenti ketika mendengar Kian tertawa. Suara tawanya membawa damai di hatiku.  Betapa aku mencintainya.  Malaikatku.  Sumber kebahagiaanku.


*************

Chapter 1: Seribu Satu Tanya, Satu Jawaban

Krycilla berjalan dengan teruburu-buru sambil melihat jam tangannya. Sesekali ia berlari kecil untuk mempercepat langkahnya.Wajahnya dipenuhi dengan penyesalan yang bercampur dengan rasa cemas.

Ugh, ini gawat, gumamnya dalam hati. Ia baru menuruni tangga halte bus Transjakarta dan memasuki sebuah gedung perkantoran. Sambil berjalan, Cilla, begitu orang-orang memanggil namanya, mulai mencoba mengingat apa yang ia lakukan semalam sehingga ia bisa terlambat. Dia tidur jam 11 malam, termasuk cepat untuk pola tidur orang Jakarta, pikirnya. Satu hal yang harus ia akui adalah tidurnya memang tidak nyenyak. Selalu tidak nyenyak atau tepatnya tidak pernah nyenyak. Inilah yang membuatku terlambat, gerutu Cilla. 

Setiap pagi, energinya harus terkuras dengan perlawanan kecil dari tubuhnya yang enggan bangun dan beranjak dari tempat tidur. Seandainya ia boleh memilih untuk tetap berbaring di tempat tidur pasti dia akan sangat bahagia.

Cilla kini segera menaiki lift yang baru saja terbuka. Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam tanpa mengundang perhatian sekelilingnya. Tetap tidak membuatnya lega memang, tapi setidaknya membantu mengurangi ketegangan. Dengan berat hati, ia melangkahkan kakinya keluar dari lift.